WELCOME TO MY BLOG.. :)

WELCOME TO MY BLOG.. :)
Smile before ... :)

Senin, 20 Februari 2012

LAPORAN UJIAN STUDI KASUS KEBIDANAN ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. “M” DENGAN ANEMIA SEDANG DI PUSKESMAS PURWAKARTA TANGGAL 18 JANUARI 2012

Melihat kemajuan teknologi yang semakin canggih, mungkin akan lebih baik jika pembelajaran ditunjang dengan media yang sejalan dengan kemajuan tersebut. Memberikan kemudahan dalam mendapatkan informasi mungkin sudah semestinya di era globalisasi seperti sekarang ini. Oleh karena itu, saya berkeinginan untuk membantu bagian pendidikan dengan memberikan sarana belajar atau contoh melalui memposting hasil studi saya selama di akademi kebidanan. Yang kemungkinan bermanfaat dalam studi atau penelitian selanjutnya yang dilakukan kerabat dalam bidang kesehatan khususnya kebidanan.  Mungkin masih ada kekurangan disana-sini, namun itu tidak menyurutkan semangat saya dalam membantu teman-teman yang ingin menambah referensi mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan kebidanan.




LAPORAN UJIAN STUDI KASUS KEBIDANAN
ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. M DENGAN ANEMIA SEDANG DI PUSKESMAS PURWAKARTA TANGGAL 18 JANUARI 2012




Disusun Oleh :
Nama   : Indah Kurniati Putri
NIM    :  09.031



AKADEMI KEBIDANAN ‘AISYIYAH BANTEN
2012
 
 
LEMBAR PERSETUJUAN
Laporan Studi Kasus Telah Disetujui Oleh Pembimbing
Pada Tanggal : 04 Februari 2012









Mengetahui,
Pembimbing


Ika Apriyanti, S.ST
NIK. 2010.08.01.030









LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Studi Kasus Telah Dipertahankan didepan TIM Penguji
Pada Tanggal :10 Februari 2012




     Penguji I                                                              Penguji II


          Sri Susanti, S.SiT,MM.Kes                                       Hj. Rohayati, S.SiT
          NIK. 2005.04.01.012                                    NIP. 19710320 199203 2 004




Mengetahui,
Direktur
Akademi Kebidanan ‘Aisyiyah Banten


dr. Hj. Faizah Syukri
NIK. 2004.06.01.009


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan studi kasus dengan judul “ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. M DENGAN ANEMIA SEDANG DI PUSKESMAS PURWAKARTA TANGGAL 18 JANUARI 2012”. Laporan studi kasus ini ditulis untuk memenuhi salah satu tugas Praktik Klinik Kebidanan di Akademi  Kebidanan ‘Aisyiyah Banten.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan studi kasus ini masih jauh dari kesempurnaan. Tetapi berkat usaha dan dukungan dari berbagai pihak, dengan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :
1.      dr. Hj. Faizah Syukri, sebagai Direktur Akademi Kebidanan ‘Aisyiyah Banten.
2.      Ibu Ika Apriyanti, S.ST, sebagai dosen pembimbing studi kasus.
3.      Ibu Hj. Rohayati, S.SiT, sebagai pembimbing lahan sekaligus penguji lahan studi kasus.
4.      Ny. “M” sebagai pasien ujian studi kasus.
5.      Rekan-rekan seperjuangan yang telah memberikan semangat dalam penyusunan laporan.
6.      Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil.
Akhir kata penulis ucapkan semoga laporan studi kasus ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca, walaupun laporan studi kasus ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dan sebagai bahan perbaikan tulisan selanjutnya.

             Serang,   Februari 2012
                                
                        Penulis

DAFTAR ISI

                HALAMAN JUDUL
                LEMBAR PERSETUJUAN            ................................................................... i
                LEMBAR PENGESAHAN             ................................................................... ii
                KATA PENGANTAR                       ................................................................... iii
                DAFTAR ISI                                    ................................................................... iv
                BAB I : PENDAHULUAN              ................................................................... 1
                1.1        Latar Belakang                          ................................................................... 1
                1.2        Tujuan Penulisan                        ................................................................... 5
                1.2.1  Tujuan Umum                       ................................................................... 5
                1.2.2  Tujuan Khusus                      ................................................................... 5
                 1.3        Manfaat Penulisan                     ................................................................... 5
                 1.4        Sistematika Penulisan                ................................................................... 6
                 BAB II    : TINJAUAN TEORI      ................................................................... 9
2.1     Kehamilan                                 ................................................................... 9
2.1.1  Pengertian                             ................................................................... 9
2.1.2 Perubahan Anatomi dan Fisiologis   ....................................................... 10
2.1.2.1 Perubahan Sistem Reproduksi   ....................................................... 10
2.1.2.2 Perubahan Sistem Sirkulasi       ....................................................... 13
2.1.2.3 Perubahan Sistem Respirasi       ....................................................... 15
2.1.2.4 Perubahan Sistem Percernaan    ....................................................... 15
2.1.2.5 Perubahan Sistem Traktus Urinarius     ........................................... 16
2.1.2.6 Perubahan Metabolik     ................................................................... 16
2.1.3  Tanda Bahaya Kehamilan    ................................................................... 17
2.1.4  Asuhan Antenatal                ................................................................... 18
2.1.4.1 Asuhan antenatal           ................................................................... 18
                2.1.4.2 Tujuan Asuhan Antenatal          ....................................................... 18
                2.1.4.3 Kebijakan Program        ................................................................... 19
                2.1.4.4 Jadwal kunjungan ulang            ....................................................... 20
                2.1.4.5 Kebijakan teknis            ................................................................... 21
                2.1.4.6 Imunisasi TT                  ................................................................... 22
2.1.5 Pemeriksaan / Pengawasan wanita hamil      ........................................... 22
2.1.5.1 Pemeriksaan fisik           ................................................................... 22
2.1.5.2 Tujuan pemeriksaan fisik ................................................................ 23
2.1.5.3 Tahapan pemeriksaan    ................................................................... 23
2.1.6   Anemia dalam Kehamilan    ................................................................... 31
2.1.6.1       Kebutuhan Zat Besi pada Wanita Hamil        ............................... 32
2.1.6.2       Diagnosis Anemia pada Kehamilan                ............................... 32
2.1.6.3       Pencegahan dan Penanggulangan Anemia dalam Kehamilan ...... 34
2.2 Manajemen Kebidanan                 ................................................................... 35
2.2.1   Definisi Manajemen Kebidanan      ....................................................... 35
2.2.2    Langkah – Langkah Manajemen Kebidanan          ............................... 35
BAB III   : PERKEMBANGAN KASUS   ......................................................  37
BAB IV   : PEMBAHASAN KASUS          ......................................................  46
BAB V    : PENUTUP                      ..................................................................  51
                 5.1   Kesimpulan                 ..................................................................  51
                 5.2   Saran-Saran                 ..................................................................  52
DAFTAR PUSTAKA         
LAMPIRAN-LAMPIRAN
 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pelayanan kesehatan maternal merupakan salah satu unsur penentu status kesehatan (Saifuddin, 2009). Namun, berdasarkan penelitian WHO, selama tahun 2005 terdapat 536.000 wanita yang meninggal disebabkan komplikasi kehamilan dan persalinan, maka didapatkan 400 ibu yang meninggal setiap 100.000 kelahiran hidup dari seluruh kematian maternal di dunia (Depkes, 2008: 146).
Berdasarkan SDKI survei terakhir tahun 2007 AKI Indonesia sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007).
Di Indonesia, angka kematian ibu melahirkan (MMR/Maternal Mortality Ratio) menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (Bappenas, 2010: 12).
Namun, jumlah angka kematian ibu di Indonesia masih tergolong tinggi diantara negara-negara ASEAN lainnya. Menurut Depkes RI tahun 2005 jika dibandingkan AKI Singapura adalah 6 per 100.000 kelahiran hidup, AKI Malaysia mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup. Bahkan AKI Vietnam sama seperti Negara Malaysia, sudah mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup, dan Indonesia sendiri jumlah AKI yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (Mulyani, 2010: 1)
Demikian pula AKB, khususnya angka kematian bayi baru lahir, AKB Indonesia masih berada dibawah dibandingkan negara ASEAN lainnya, yaitu Singapura 3 per 1.000, Brunei Darussalam 8 per 1000, Malaysia 10 per 1.000, Vietnam 18 per 1.000,Thailand 20 per 1.000, dan Indonesia sendiri yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup (Mulyani, 2010: 1).
Salah satu tujuan pembangunan millennium (Millennium Development Goals / MDGs) adalah menurunkan AKI sebanyak tiga perempat dari angka nasional pada tahun 2015. Selain itu, kesepakatan global Millennium Development Goals (MDGs) menargetkan AKI di Indonesia dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, sedangkan untuk AKB adalah 23/100.000. Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah persalinan. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa lebih dari 90% kematian ibu disebabkan komplikasi obstetri, yang sering tak dapat diramalkan pada saat kehamilan. Kebanyakan komplikasi itu terjadi pada saat atau sekitar persalinan (Saifuddin, 2009: 6).
Penyebab langsung kematian ibu biasanya terkait erat dengan kondisi kesehatan ibu sejak proses kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan. Sedangkan penyebab tidak langsung lebih terkait dengan kondisi sosial, ekonomi, geografi, serta perilaku budaya masyarakat yang terangkum dalam 4 Terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, terlalu sering/rapat) dan 3 Terlambat (terlambat mengambil keputusan, terlambat membawa, dan terlambat mendapat pelayanan) (Depkes, 2008: 140).
Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, seperti halnya di negara lain adalah perdarahan, infeksi, eklampsia (Saifuddin, 2009 : 6). Berdasarkan laporan rutin PWS tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu dari 228 per 100.000 yaitu perdarahan sekitar 84 kasus (39%), eklampsia sekitar 49 kasus (20%), infeksi 21 kasus (7%) dan lain-lain 71 kasus (33%) per 100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2008).
Selain itu, keadaan ibu sejak pra-hamil dapat berpengaruh terhadap kehamilannya. Penyebab tak langsung kematian ibu ini antara lain adalah anemia (Saifuddin, 2009 : 6).
Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008), namun cakupan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% (tahun 2007) menjadi 48,14% (tahun 2008) (Depkes, 2008).
Simanjuntak mengemukakan bahwa sekitar 70% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia akibat kekurangan gizi dan pada pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa kebanyakan karena kekurangan zat besi yang dapat diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi (Manuaba, 2010: 238)
Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia kehamilan disebut “potential danger to mother and child”, karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan (Manuaba, 2010: 237).
Berdasarkan beberapa fakta di atas, upaya pelayanan program kesehatan ibu maternal difokuskan  pada peningkatan aksesibilitas serta kualitas pelayanan terkait dengan berbagai faktor risiko yang menjadi penyebab utama kematian ibu maternal (Depkes, 2008: 162).
Safe Motherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan wanita agar kehamilan dan persalinannya sehat dan aman, serta melahirkan bayi yang sehat. Tujuan upaya Safe Motherhood adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin, nifas, dan menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. WHO mengembangkan konsep Four Pillars of Safe Motherhood.  Empat pilar upaya Safe Motherhood tersebut adalah keluarga berencana, asuhan antenatal, persalinan bersih dan aman, dan pelayanan obstetri esensial (Syafrudin, 2009 : 97). Salah satu dari empat pilar tersebut adalah asuhan antenatal, dalam hal ini petugas kesehatan diharapkan mampu mengidentifikasi dan melakukan penanganan risiko tinggi/komplikasi secara dini serta meningkatkan status kesehatan wanita hamil (Syafrudin, 2009 : 98).
Pada siklus kehamilan, fokus pelayanan diarahkan pada pelayanan kesehatan ibu hamil atau antenatal care (ANC) yang dilakukan sejak awal kehamilan. Melalui pelayanan ANC yang berkualitas sebenarnya perkembangan kesehatan ibu hamil setiap saat bisa dipantau dan secara dini dapat dilakukan tindakan/intervensi dalam rangka mengeliminir berbagai faktor risiko kejadian kematian ibu maternal (Depkes, 2008: 162).
Peran bidan dalam masyarakat sebagai tenaga terlatih pada Sistem Kesehatan Nasional diantaranya memberikan pelayanan sebagai tenaga terlatih, meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat, dan meningkatkan sistem rujukan (Manuaba, 2010: 27).
Mengingat pentingnya peran dan fungsi bidan, hal ini melatar belakangi penulis untuk melakukan studi kasus melalui pendekatan asuhan kebidanan ibu hamil pada Ny. “M” di Puskesmas Purwakarta Tanggal 18 Januari 2012.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Dapat melaksanakan asuhan kebidanan kepada ibu hamil dengan anemia sedang sehingga dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan anemia sedang.
2. Mahasiswa mampu melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan anemia sedang dengan metode Varney.
1.3  Manfaat Penulisan
Diharapkan studi khusus ini dapat bermanfaat bagi :
1.3.1 Penulis
Menerapkan secara langsung ilmu yang didapat selama bangku kuliah mengenai manajemen asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan anemia sedang sesuai prosedur. Serta dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman.

1.3.2 Institusi Pendidikan
Mengetahui perkembangan aplikasi secara nyata dilapangan, serta dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk  pendidikan.
1.3.3 Lahan Praktek 
Mengetahui perkembangan aplikasi secara nyata dilapangan dan sesuai teori yang ada, serta dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan referensi untuk lahan praktek.
1.3.4 Pasien / Klien
Untuk meningkatkan pengetahuan pasien / klien tentang kehamilan khusus nya mengenai pengetahuan dan penanganan anemia pada kehamilan yang diderita oleh ibu saat ini.
1.4  Sistematika Penulisan
         HALAMAN JUDUL
         LEMBAR PERSETUJUAN
         LEMBAR PENGESAHAN
         KATA PENGANTAR
         DAFTAR ISI
                     BAB I : PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
1.2    Tujuan Penulisan
1.2.1   Tujuan Umum
1.2.2   Tujuan Khusus
1.3    Manfaat Penulisan
1.4    Sistematika Penulisan
BAB II            : TINJAUAN TEORI 
2.1  Kehamilan
2.1.1 Pengertian
2.1.2 Perubahan Anatomi dan Fisiologis Kehamilan
2.1.2.1 Perubahan Sistem Reproduksi
2.1.2.2 Perubahan Sistem Sirkulasi
2.1.2.3 Perubahan Sistem Respirasi
2.1.2.4 Perubahan Sistem Percernaan
2.1.2.5 Perubahan Sistem Traktus Urinarius
2.1.2.6 Perubahan Metabolik
2.1.3 Tanda Bahaya Kehamilan
2.1.4 Asuhan Antenatal
2.1.4.1 Asuhan antenatal
2.1.4.2 Tujuan Asuhan Antenatal
2.1.4.3 Kebijakan Program
2.1.4.4 Jadwal kunjungan ulang
2.1.4.5 Kebijakan teknis
2.1.4.6 Imunisasi TT
2.1.5 Pemeriksaan / Pengawasan wanita hamil
2.1.5.1 Pemeriksaan fisik 
2.1.5.2 Tujuan pemeriksaan fisik 
2.1.5.3 Tahapan pemeriksaan
2.1.6   Anemia dalam Kehamilan
2.1.6.1  Kebutuhan Zat Besi pada Wanita Hamil
2.1.6.2  Diagnosis Anemia pada Kehamilan 
2.1.6.3  Pencegahan dan Penanggulangan Anemia dalam Kehamilan
2.2 Manajemen Kebidanan
2.2.1   Definisi Manajemen Kebidanan
BAB III : PERKEMBANGAN KASUS
BAB IV : PEMBAHASAN KASUS
BAB V            : PENUTUP
                 5.1   Kesimpulan
                 5.2   Saran-Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
 
BAB II
TINJAUAN  TEORI

2.1     Kehamilan
2.1.1      Pengertian
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40  minggu atau  9 bulan 7 hari), dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin, 2009: 89).
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.
Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, yaitu :
1. Kehamilan trimester kesatu (berlangsung dalam 12 minggu)
2. Kehamilan trimester kedua (minggu ke-13 hingga ke-27)
3. Kehamilan trimester ketiga (minggu ke-28 hingga ke-40) (Saifuddin, 2008: 213).
2.1.2 Perubahan Anatomi dan Fisiologis Kehamilan
Menurut Saifuddin (2008), perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil adalah sebagai berikut :
2.1.2.1 Perubahan Sistem Reproduksi
1. Uterus
a. Pada perempuan tidak hamil uterus mempunyai berat 70 g dan kapasitas 10 ml atau kurang. Selama kehamilan uterus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin, plasenta, dan cairan amnion rata-rata pada akhir kehamilan volume totalnya mencapai 5 l bahkan dapat mencapai 20 l atau lebih dengan berat rata-rata 1100 g. 
b. Pada awal kehamilan penebalan uterus distimulasi terutama oleh hormon estrogen dan sedikit progesteron. Posisi plasenta juga mempengaruhi penebalan sel-sel otot uterus, dimana bagian uterus yang mengelilingi tempat implantasi plasenta akan bertambah besar lebih cepat dibandingkan bagian lainnya sehingga akan menyebabkan uterus tidak rata. Fenomena ini dikenal dengan tanda Piscaseck.
c. Isthmus uteri pada minggu pertama mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri yang mengakibatkan ismus menjadi lebih panjang dan lunak yang dikenal dengan tanda Hegar.
d. Sejak trimester pertama kehamilan uterus akan mengalami kontraksi yang tidak teratur dan umumnya tidak disertai rasa nyeri. Pada trimester kedua kontraksi ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan bimanual. Fenomena ini disebut dengan kontraksi Braxton Hicks.
2. Serviks
Satu bulan setelah konsepsi serviks akan menjadi lebih lunak dan kebiruan. Perubahan ini akibat penambahan vaskularisasi dan terjadinya edema pada seluruh servik.
3. Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel baru juga ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di ovarium. Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal kehamilam setelah itu akan berperan sebagai penghasil progesteron dalam jumlah yang relatif minimal. Terjadinya kehamilan indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu.
4. Vagina dan Perineum
Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hiperemia terlihat jelas pada kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina akan terlihat berwarna keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwick. Peningkatan volume sekresi vagina juga terjadi, di mana sekresi akan berwarna keputihan, menebal, dan pH antara 3,5-6 yang merupakan hasil dari peningkatan produksi asam laktat glikogen yang dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari lactobacillus acidophilus.
5. Payudara
a. Pada awal kehamilan perempuan akan merasakan payudaranya menjadi lebih lunak. Setelah bulan kedua payudara akan bertambah ukuranya dan vena-vena yang dibawah kulit akan lebih terlihat, hal ini untuk persiapan saat menyusui. Perkembangan payudara dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, dan somatomammotropin. Setelah bulan pertama suatu cairan berwarna kekuningan yang disebut kolostrum dapat keluar. Meskipun dapat dikeluarkan, air susu belum dapat diproduksi karena hormon prolaktin ditekan oleh prolactin inhibiting hormone.
b.  Kelenjar Montgomery, yaitu kelenjar sebasea dari areola akan membesar dan cenderung untuk menonjol keluar.
6. Kulit
a. Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi kemerahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah payudara dan paha. Perubahan ini dikenal dengan striae gravidarum.
b. Pada banyak perempuan kulit di garis pertengahan perutnya (linea alba) akan berubah menjadi hitam kecokelatan yang disebut dengan linea nigra.
c. Kadang-kadang akan muncul dalam ukuran yang bervariasi pada wajah dan leher yang disebut chloasma gravidarum. Adanya peningkatan kadar serum melanocyte stimulating hormone (MSH) pengaruh lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis pada akhir bulan kedua masih sangat diragukan sebagai penyebabnya. Estrogen progesteron diketahui mempunyai peran dalam melanogenesis dan diduga bisa menjadi faktor pendorongnya. Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang.
2.1.2.2 Perubahan Sistem Sirkulasi
Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor berikut ini:
1.    Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
2.    Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.
3.    Pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran darah, antara lain sebagai berikut:
a.       Volume darah
Volume darah akan meningkat secara progesif mulai minggu ke 6-8 kehamilan dan mencapai puncaknya pada minggu ke-32 – 34 dengan perubahan kecil setelah minggu tersebut, volume plasma akan meningkat kira-kira 40 - 45 %. Hal ini dipengaruhi oleh aksi progesteron dan estrogen pada ginjal. Penambahan volume darah ini sebagian besar berupa plasma dan erirtrosit.
b.      Sel darah
Eritropoetin ginjal akan meningkatkan jumlah sel darah merah sebanyak 20-30%, tetapi tidak sebanding dengan peningkatan volume plasma sehingga akan mengakibatkan hemodilusi dan penurunan konsentrasi hemoglobin dari 15 g/dl menjadi 12,5 g/dl, dan pada 6 % perempuan bisa mencapai di bawah 11 g/dl. Pada kehamilan lanjut, itu merupakan suatu hal yang abnormal dan biasanya lebih berhubungan dengan defisiensi zat besi daripada hipervolemia. Penambahan asupan zat besi dan asam folat dapat membantu mengembalikan kadar hemoglobin.
2.1.2.3 Perubahan Sistem Respirasi
Selama periode kehamilan, sistem respirasi mengalami perubahan. Hal ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan O2 yang semakin meningkat. Disamping itu juga terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim. Ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20-25% dari biasanya. Sesak nafas dan pernafasan yang cepat akan membuat ibu hamil merasa lelah, hal ini dikarenakan saat kehamilan kerja jantung dan paru-paru meningkat. Perubahan ini akan mencapai puncaknya pada minggu ke-37.
2.1.2.4 Perubahan Sistem Percernaan
Seiring dengan makin besarnya uterus, lambung dan usus akan tergeser. Demikian juga dengan yang lainnya seperti apendiks yang akan bergeser kearah atas dan lateral. Perubahan yang nyata akan terjadi pada penurunan motilitas otot polos pada traktus digestivus dan penurunan sekresi asam hidroklorid dan peptin di lambung.
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat rasa enek (nausea). Mungkin ini akibat pada hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot digestivus menurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada di lambung dan apa yang telah dicerna lebih lama berada di usus.
2.1.2.5 Perubahan Sistem Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering berkemih. Keadaan ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, jika kepala janin sudah mulai turun ke pintu atas panggul, keluhan itu akan timbul kembali.
2.1.2.6 Perubahan Metabolik
Sebagian besar penambahan berat badan selama kehamilan berasal dari uterus dan isinya. Kemudian payudara, volume darah, dan cairan ekstraselular. Diperkirakan selama kehamilan berat badan akan bertambah 12,5 kg (Saifuddin, 2008: 180).
Pada trimester ke-2 dan ke-3 pada perempuan dengan gizi baik dianjurkan menambah berat badan per minggu sebesar 0,4 kg, sementara perempuan dengan gizi kurang atau berlebih dianjurkan menambah berat badan per minggu masing-masing sebesar 0,5 kg dan 0,3 kg (Saifuddin, 2008: 180).
Menurut Saifuddin (2009), bertambahnya berat badan minimal 8 kg selama kehamilan. Sedangkan menurut Manuaba (2010), berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5 sampai 16,5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan sekitar 0,5 kg/minggu.
Perkiraan peningkatan berat badan :
1.      4 kg dalam kehamilan 20 minggu
2.      8,5 kg dalam 20 minggu kedua (0,4kg/minggu dalam trimester akhir)
3.   Totalnya sekitar 12,5 kg (Salmah, 2006: 61). Atau, total pertambahan berat badan ibu selama kehamilan 11,5-16 kg (Salmah, 2006: 113).
2.1.3 Tanda Bahaya Kehamilan Trimester III
Tanda bahaya dalam kehamilan perlu diketahui oleh ibu dan keluarga agar ia waspada terhadap ancaman kesehatan diri maupun janinnya. Berikut adalah tanda bahaya yang penting diketahui oleh ibu dan keluarga:
a)      Sakit kepala lebih dari biasa,
b)      Gangguan penglihatan,
c)      Pembengkakan pada wajah atau tangan,
d)     Nyeri abdomen (epigastrik),
e)      Janin tidak pergerak seperti biasanya,
f)       Perdarahan per vaginam (Saifuddin, 2009: 95).

2.1.4 Asuhan Antenatal
2.1.4.1 Asuhan antenatal
Menurut Saifuddin (2009), pelayanan/asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor atau mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. Oleh karena itu, kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan. Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.
2.1.4.2 Tujuan Asuhan Antenatal
Tujuan asuhan antenatal adalah sebagai berikut:
1.      Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
2.      Meningkatkan dan mempertahankan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
3.      Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4.      Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan denganselamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5.      Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif.
6.      Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
2.1.4.3 Kebijakan Program
Menurut Syafrudin (2009), kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan:
1.      Satu kali pada triwulan pertama
2.      Satu kali pada triwulan kedua
3.      Dua kali pada triwulan ketiga
Atau menurut Manuaba (2010), yaitu;
1.      Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui terlambat haid.
2.      Pemeriksaan ulang:
a.       Setiap bulan sampai usia kehamilan 6 sampai 7 bulan
b.      Setiap  2 minggu sampai usia kehamilan 8 bulan.
c.       Setiap 1 minggu sejak usia kehamilan 8 bulan sampai terjadi persalinan.
3.      Pemeriksaan khusus bila terdapat keluhan tertentu.

Pelayanan/ asuhan standar minimal termasuk 10T´, yaitu:
1.Timbang berat badan
2.Ukur (Tekanan) darah
3. Nilai status lingkar lengan (LILA)
4.Ukur (Tinggi) fundus uteri
5.Tentukan presentasi janin dan DJJ
6.Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
7.Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan.
8.Tes Laboratorium
9.Tes terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS).
10.Temu wicara atau konseling termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi serta KB pasca persalinan (Depkes RI, 2009).
2.1.4.4 Jadwal kunjungan ulang
Menurut Saifuddin (2009), Jadwal kunjungan ulang pada kehamilan yaitu:
1. Kunjungan I (16 minggu), dilakukan untuk::
a. Persiapan dan pengobatan anemia 
b. Perencanaan persalinan
c. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya.
2. Kunjungan II (24-28 minggu) dan kunjungan III (32minggu), dilakukan untuk:
a. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya 
b. Penapisan pre eklampsia, gemeli, infeksi alat reproduksi, dan saluran perkemihan.
c. Mengulang perencanaan persalinan
3. Kunjungan IV: 36 minggu sampai lahir:
a. Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III 
b. Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
c. Memantapkan rencana persalinan
d. Mengenali tanda-tanda persalinan.
2.1.4.5 Kebijakan teknis
Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya (Saifuddin, 2009).
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
1.Mengupayakan kehamilan yang sehat
2.Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan
3.Persiapan persalinan yang bersih dan aman
4.Perencanaan antisipatif dan persiapan dini untuk melakuakan rujukan jika terjadi komplikasi.

2.1.4.6 Imunisasi TT
Tabel 2.1 Imunisasi TT
Antigen
Interval
(selang waktu minimal)
Lama perlindungan
% perlindungan
TT1
Pada kunjungan antenatal pertama
__
__
TT2
4 minggu setelah TT1
3 tahun
80
TT3
6 bulan setelah TT2
5 tahun
95
TT4
1 tahun setelah TT3
10 tahun
99
TT5
1 tahun setelah TT4
25 tahun/seumur hidup
99
Sumber : (Saifuddin, 2009).
2.1.5 Pemeriksaan / Pengawasan wanita hamil
2.1.5.1 Pemeriksaan fisik 
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan yang dilakukan pada bagian tubuh dari kepala sampai kaki. Kehamilan merupakan suatu proses pembuahan dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh normal di dalam rahim ibu. (Hidayati, 2009).
2.1.5.2 Tujuan pemeriksaan fisik 
Pemeriksaan fisik pada ibu hamil selain bertujuan untuk menegtahui kesehatan ibu dan janin saat ini, juga bertujuanuntuk mengetahui perubahan yang terjadi pada pemeriksaan berikutnya. Penentuan apakah sang ibu sedang hamil atau tidak sangat diperlukan saat ibu pertama kali berkunjung ke petugas kesehatan. Jika hasil pemeriksaan pada kunjungan pertama sang ibu dinyatakan hamil, maka langkah selanjutnya perlu ditentukan berapa usia kehamilannnya. Setiap pemeriksaan kehamilan adalah dengan melihat dan meraba petugas akan mengetahui apakah ibu sehat, janin tumbuh dengan baik, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur kehamilan atau tidak, serta dimana letak janin (Hidayati, 2009).
2.1.5.3 Tahapan pemeriksaan (Saifuddin, 2008)
1.Identifikasi dan Riwayat Kesehatan (anamnessa)
a. Data Umum Pribadi
1)      Nama
2)      Usia
3)      Alamat
4)      Pekerjaan ibu/suami
5)      Lamanya menikah
6)      Kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan
b. Keluhan Saat Ini
1)      Jenis dan sifat gangguan yang dirasakan ibu
2)      Lamanya mengalami gangguan tersebut
c. Riwayat Haid
1)      Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)
2)      Usia kehamilan dan Taksiran Persalinan ( Rumus Naegele: tanggal HPHT ditambah 7 dan bulan dikurangi 3
d. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
1)      Asuhan antenatal, persalinan, dan nifas sebelumnya
2)      Cara persalinan
3)      Jumlah dan jenis kelamin anak hidup
4)      Berat badan lahir
5)      Cara pemberian asupan bagi bayi yang dilahirkan
6)      Informasi dan saat persalinan atau keguguran terakhir
e. Riwayat Kehamilan Saat Ini
1)      Identifikasi penyulit (preeklampsia atau hipertensi dalam kehamilan)
2)      Penyakit lain yang diderita
3)      Gerakan bayi dalam kandungan
f. Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
g. Riwayat Penyakit Ibu
h. Riwayat Penyakit yang Memerlukan Tindakan Pembedahan
i. Riwayat Mengikuti Program Keluarga Berencana
j. Riwayat Imunisasi
k. Riwayat Menyusui
2. Pemeriksaan (Mulyani, 2010)
Pada pemeriksaan seluruh tubuh wanita harus diperiksa dengan teliti. Keadaan umum, tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan, diperiksa dan dicatat. Kepala (rambut, kebersihan, ketebalan, dan adakah benjolan), mata (konjungtiva, sklera, dan pupil), telinga (kebersihan, adakah cairan, serta posisi simetris/tidak), hidung (kebersihan dan polip), mulut (bibir, kebersihan, bau dan tonsil), gigi (lubang, caries), leher (pembesaran kelenjar thyroid/getah bening, dan nyeri), jantung, paru (suara nafas), mammae (simetris/tidak, benjolan, aerola, puting susu dan kebersihan), aksila (ada benjolan/tidak), seluruh abdomen (garis kehamilan, striae, bekas luka, bentuk, pembesaran, dan oedem), ekstremitas (varices, oedem tangan/jari, oedem tibia kaki dan refleks patella), diperiksa dengan teliti dan di catat.
3. Pemeriksaan ginekologik (pemeriksaan dalam/ bimanual) 
Inspeksi luar : keadaan vulva / uretra, ada tidaknya tanda radang, luka / perdarahan, kelainan lainnya. Labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa untuk inspeksi lebih jelas.
Inspeksi dalam menggunakan spekulum (inspeculo) : Labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa, alat spekulum Cusco (cocorbebek) dimasukkan ke vagina dengan bilah vertikal kemudian di dalam liang vagina diputar 90o sehingga horisontal, lalu dibuka. Deskripsi keadaan portio serviks (permukaan,warna), keadaan ostium, ada/tidaknya darah/cairan di forniks, dilihat keadaan dinding dalam vagina, ada/tidak tumor, tanda radang atau kelainan lainnya. Spekulum ditutup horisontal, diputar vertikal dan dikeluarkan dari vagina. 
4.Pemeriksaan laboratorium
   Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah gol darah (A, B, O), kadar haemoglobin, urine untuk albumin, gula, berat jenisnya, dan sebagainya.
5. Pemeriksaan Obstetrik 
   Wanita hamil yang diperiksa disuruh berbaring terlentang dengan bahu dan kepala sedikit lebih tinggi (memakai bantal), dan pemeriksa berada disebelah kanan yang diperiksa berada disebelah kanan yang diperiksa. Dikenal beberapa cara palpasi, yang lazim dipakai ialah cara palpasi menurut Leopold, karena telah hampir mencakupi semuanya (Saifuddin, 2009). Letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala dengan manuver Leopold (kalau > 36 minggu) (Fadlun, 2011: 3). Palpasi dilakukan menurut teori Leopold, yaitu:
a.      Leopold I 
Letakkan sisi lateral telunjuk kiri pada puncak fundus uteri untuk menentukan tinggi fundus. Tinggi fundus uteri (jika > 12 minggu dilakukan dengan palpasi, setelah 22 minggu menggunakan pita ukur) (Fadlun, 2011: 3). Angkat jari telunjuk kiri kemudian atur posisi pemeriksa sehingga menghadap ke bagian kepala ibu. Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada fundus uteri dan rasakan bagian bayi yang ada pada bagian tersebut dengan jalan menekan secara lembut dan menggeser telapak tangan kiri dan kanan secara bergantian.
Tabel 2.2 TFU untuk menentukan usia kehamilan
TFU(berdasarkan perabaan)
Usia Kehamilan

1/3 di atas simfisis

12 minggu

1/2 di atas simfisis – pusat

16 minggu

2/3 di atas simfisis
20 minggu

Setinngi pusat

22 minggu

1/3 di atas pusat

28 minggu

1/2 pusat-prosesus xifoideus

34 minggu

Setinggi prosesus xifoideus
36 minggu

Dua jari (4 cm) di bawah prosesus xifoideus

40 minggu

   Sumber : (Manuaba, 2010: 100).
Tabel 2.3 TFU untuk memantau tumbuh kembang janin
Usia
Kehamilan
Tinggi Fundus
Dalam cm
Menggunakan penunjuk- penunjuk badan
12 minggu

___

Teraba di atas simfisis

16 minggu

___

Ditengah antara simfisis pubis dan umbilicus
20 minggu

20 cm (±2 cm)

Pada umbilicus

22-27 minggu
Usia kehamilan dalam minggu= cm (±2 cm)

___

28 minggu
28 cm (±2 cm)
Ditengah antara umbilikusdan prosesus sifoideus
29-35 minggu

Usia kehamilan dalam minggu= (±2 cm)

___

36 minggu

36 cm (±2 cm)
Pada prosesus sifoideus

Sumber : (Saifuddin, 2009: 93).
b.      Leopold II 
1.      Letakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan pada dinding perut lateral kiri ibu secara sejajar dan pada ketinggian yang sama.
2.      Mulai dari atas, tekan secara bergantian telapak tangan kiri dan kanan, kemudian bergeser ke arah bawah dan rasakan adanya bagian yang rata dan memanjang (punggung) atau bagian-bagian kecil (ekstermitas).
c.       Leopold III 
1.      Tangan kanan pemeriksa memegang bagian bawah abdomen.
2.      Ini untuk menentukan bagian terbawah janin dan memastikan apakah bagian tersebut sudah masuk ke panggul atau belum.
Turunnya kepala, masuk pintu atas panggul, terutama pada primigravida minggu ke-36 dapat menimbulkan sesak bagian bawah, di atas simfisis pubis dan sering ingin berkemih atau sulit kencing karena kandung kemih tertekan kepala dan nyeri daerah pinggang karena tertekannya pleksus Frakenhauser yang terletak di sekitar serviks (Manuaba, 2010: 167).
DJJ (jika > 18 minggu) (Fadlun, 2011: 3). Batas normal denyut jantung janin antara 120 dan 160 x/menit (Manuaba, 2010: 159). Bidan harus menghitung denyut per menit (Fraser, 2009: 261).
d.      Leopold IV 
1.      Pemeriksa menghadap kearah kaki pasien.
2.      Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada lateral kiri dan kanan uterus bawah, ujung-ujung jari tangan kiri dan kanan berada di tepi atas simfisis.
3.      Temukan kedua ibu jari kiri dan kanan, kemudian rapatkan semua jari-jari tangan yang meraba dinding bawah uterus.
4.      Perhatikan sudut yang dibentuk oleh jari-jari kiri dan kanan (konvergen atau divergen).
5.      Setelah itu, pindahkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada bagian terbawah bayi.
6.      Fiksasikan bagian tersebut ke arah pintu atas panggul kemudian letakkan jari-jari tangan kanan di antara tangan kiri dan simfisis untuk menilai seberapa jauh bagian terbawah telah memasuki pintu atas panggul.

Cara menghitung TBJ Digunakan rumus sebagai berikut :
Digunakan rumus sebagai berikut :


1.      (TFU – 13) x 155
2.      (TFU – 12) x 155
3.      (TFU – 11) x 155
 
 



Sumber : (Saifuddin, 2008).
 
Keterangan:
1)         Bila kepala belum masuk PAP, maka TFU dikurang 13
2)         Bila kepala sebagian masuk PAP, maka TFU dikurang12
3)         Bila kepala sudah masuk PAP, maka TFU dikurang 11
6. Petunjuk menjaga kehamilan
Petunjuk hendaknya diberikan mengenai cara hidup, istirahat, diet dalam kehamilan, koitus, kebersihan dan pakaian, pengawasan berat badan, perawatan gigi, imunisai, merokok, pemberian obat, dan aktifitas yang ringan. Penting pula memberi suaminya pengetahuan tentang keadan isterinya yang hamil, segala sesuatu hendaknya diarahkan hingga diperoleh kepercayaan sepenuhnya dari ibu. Kunjungan berikutnya dianjurkan tiap 4 minggu sampai usia kehamilan 28 minggu, tiap 2 minggu sampai usia 36 minggu, dan tiap 1 minggu setelah kehamilan 36 minggu.
2.1.6 Anemia dalam Kehamilan
          Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin dibawah 11g% pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 g% pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Saifuddin, 2009: 281).
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, dan merupakan jenis anemia yang pengobatannya relatif mudah, bahkan murah. Menurut WHO, kejadian anemia kehamilan berkisar antara 20 dan 89% dengan menetapkan Hb 11 g% (g/dl) sebagai dasarnya.
2.1.6.1       Kebutuhan Zat Besi pada Wanita Hamil
Kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Kebutuhan zat besi pada kehamilan kurang lebih 1000 mg, 500 mg dibutuhkan untuk meningkatkan massa sel darah merah dan 300 mg untuk transportasi ke fetus dalam kehamilan 12 minggu, 200 mg lagi untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh. Wanita hamil perlu menyerap zat besi rata-rata 3,5 mg/hari.
               Sedangkan menurut Saifuddin, kebutuhan ibu selama kehamilan ialah 800 mg besi, diantaranya 300 mg untuk janin, plasenta, dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu. Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2-3 mg besi/hari (Saifuddin, 2009: 281).
               Efek samping berupa gangguan perut pada pemberian besi oral menurunkan kepatuhan pemakaian secara massal, ternyata rata-rata hanya 15 tablet yang dipakai oleh wanita hamil (Saifuddin, 2009: 281).
               Sejak tahun 1972, WHO merekomendasikan agar suplementasi zat besi sebanyak 30-60 mg diberikan kepada ibu yang memiliki cadangan zat besi di dalam tubuhnya, dan 120-240 mg per hari untuk ibu yang tidak memiliki cadangan zat besi (Fraser, 2009: 190).
2.1.6.2       Diagnosis Anemia pada Kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dilakukan dengan anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, dan keluhan mual-muntah lebih hebat pada hamil muda (Manuaba, 2010: 239).
Keluhan lemah, pucat, mudah pingsan sementara tensi masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi. Secara klinik dapat dilihat tubuh yang malnutrisi, pucat (Saifuddin, 2009: 282).
Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat Sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan Sahli dapat digolongkan sebagai berikut (Manuaba, 2010: 239) :
a.       Hb 11 g% disebut tidak anemia
b.      Hb 9-10 g% disebut anemia ringan
c.       Hb 7- 8 g% disebut anemia sedang
d.      Hb ≤ 7 g% disebut anemia berat.
Sedangkan menurut Depkes RI tahun 2005, bahwa anemia berdasarkan hasil pemeriksaan digolongkan menjadi :
a.         Hb ≥ 11,0 g% disebut tidak anemia
b.        Hb 9,0 g% - 10,9 g% disebut anemia sedang
c.         Hb ≤ 8,0 g% disebut anemia berat.
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan, yaitu pada trimester I dan trimester III (Manuaba, 2010: 239).
Penggolongan anemia menurut Manuaba tahun 2010, yaitu:
a.       Anemia defisiensi besi (kekurangan zat besi).
b.      Anemia megaloblastik (kekurangan vitamin B12).
c.       Anemia hemolitik (pemecahan sel-sel darah lebih cepat dari pembentukan).
d.      Anemia hipoplastik (gangguan pembentukkan sel-sel darah).
2.1.6.3       Pencegahan dan Penanggulangan Anemia dalam Kehamilan
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut (Manuaba, 2010: 240).
Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu hamil di puskesmas (Manuaba, 2010: 239).
               Pencegahan dan penanggulangan anemia pada ibu hamil, antara lain meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan seperti daging, ikan, hati, telur, sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, dan padi-padian. Hindari mengkonsumsi makanan yang mengandung zat inhibitor saat bersamaan dengan makan nasi seperti teh karena mengandung tannin yang akan mengurangi penyerapan zat besi (Simanjuntak, 2009).
               Terapi anemia defisiensi besi ialah dengan preparat besi oral. Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat, atau Na-ferobisitrat dan masih banyak lagi. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g%/bulan. Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 500 µg asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2009: 282).
Dimulai dengan memberikan satu  tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg. (zat besi 60 mg) dan Asam Folat 500 µg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu penyerapan (Saifuddin, 2009: 91).
2.2 Manajemen Kebidanan
2.2.1   Definisi Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian /tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien (Varney, 1997). Dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada pasien yang berupa metode pemecahan 7 langkah varney yaitu pengkajian, interprestasi data, diagnosa potensial, tindakan segera, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
2.2.2 Langkah – Langkah Manajemen Kebidanan
1.      Pengkajian
Yaitu meneliti dengan mengumpulkan semua data yang perlu untuk evaluasi yang lengkap.
2.      Interprestasi Data Dasar
Yaitu membuat identifikasi yang tepat dari masalah atau diagnosis berdasarkan interpretasi yang benar dari data yang terkumpul.
3.      Diagnosa Potensial
Yaitu mengantisipasi masalah potensial atau diagnosis lainnya yang mungkin terjadi karena masalah atau diagnosis yang sudah teridentifikasi.
4.      Tindakan Segera
Yaitu mengevaluasi apakah perlu intervensi Bidan atau Dokter yang segera dan/atau untuk manajemen konsultasi atau kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lainnya, seperti ditentukan oleh kondisi pasien itu.
5.      Perencanaan
Yaitu membuat rencana asuhan yang menyeluruh yang didukung oleh penjelasan rasional yang tepat menggarisbawahi keputusan yang diambil berdasarkan langkah-langkah sebelumnya.
6.      Pelaksanaan
Yaitu mengarahkan atau menerapkan rencana asuhan secara efisien dan aman.
7.      Evaluasi
Yaitu evaluasi keefektifan asuhan yang diberikan, mengulang secara tepat manajemen proses untuk semua asuhan yang tidak efektif (Syafrudin, 2009: 72).
 
BAB III
PERKEMBANGAN KASUS
3.1 Manejemen Asuhan Kebidanan pada Kehamilan
Kunjungan ANC pada tanggal 18 Januari 2012 pukul 10.00 WIB. Di Puskesmas Purwakarta
SUBYEKTIF
 Ny. “M” usia 31 tahun, suku Jawa, agama islam, pendidikan terakhir SMP, pekerjaan ibu rumah tangga. Nama suami Tn. “M” usia 29 tahun, suku Jawa, agama islam, pendidikan terakhir SMA, pekerjaan buruh, Penghasilan Rp.1.500.000,- per bulan. Bertempat tinggal di Kaligandu Komplek Kec. Purwakarta Cilegon.
Ibu datang ke Puskesmas Purwakarta, untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, dan ini merupakan kontak pertama dengan pasien. Dilakukan anamnesa, dengan keluhan utama nya tidak ada.
Riwayat Menstruasi: Haid pertama usia 12 tahun dengan siklus 28 hari, banyaknya darah 3 kali ganti pembalut dalam sehari, lamanya 7 hari, sifat darah cair, dan pernah merasa sakit perut pada saat haid (Dysmenorhoe) hanya pada awal menstruasi.
Riwayat kehamilan ini : ibu mengatakan HPHT : 19 Mei 2011. Taksiran persalinan 26 Februari 2012. Hasil tes kehamilan dilakukan tanggal 05 Juli 2011, hasil: (+) Positif. Pada waktu hamil ANC dibidan teratur. Pergerakan anak pertama kali dirasakan oleh ibu umur kehamilan ± 20 minggu. Pergerakan anak dalam 24 jam lebih dari 10 kali. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu: yaitu ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama dan tidak pernah keguguran.
Kebiasaan sehari-hari: nutrisi, pola makan ibu 3x/hari, dengan menu seimbang (nasi, sayur-sayuran, lauk pauk, buah-buahan, susu, air putih) dan tidak ada perubahan pola makan. Eliminasi : BAB 2 kali dan BAK lebih dari 7 kali. Pola istirahat ibu: siang 2 jam/hari, tidur malam 8 jam/hari, Hubungan seksual 1 kali/minggu. Ganti pakaian 3 kali/hari. Pekerjaan:  pekerjaan ringan seperti memasak, mencuci, menyapu, menggosok baju, dll. Ibu tidak merokok dan tidak mengkonsumsi narkotika atau jamu-jamu.
Ibu mengatakan imunisasi TT sudah lengkap, riwayat KB: Belum pernah menggunakan kontrasepsi apapun.
Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita: ibu mengatakan tidak mempunyai penyakit seperti: penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, anemia berat, liver, PMS/HIV/AIDS, campak, malaria, tuberculosis, gangguan mental. Serta ibu tidak pernah dioperasi. Riwayat penyakit keturunan tidak ada.
Riwayat sosial: ibu menerima kehamilan ini, ibu mengaku hubungan antara ibu, suami dan keluarga baik dan keluarga sudah menyiapkan keperluan kelahiran bayi baik dari mental, material dan spiritual. Ibu mengaku ada kepercayaan keluarga yang berhubungan dengan kehamilan / persalinan ini yaitu suka memakai bengle di baju nya. Jumlah keluarga dalam satu rumah 7 orang, pengambilan keputusan dalam keluarga secara bersama.
Riwayat perkawinan: ibu mengaku ini pernikahan pertama, lamanya 1 tahun, usia ibu saat menikah yaitu 30 tahun, usia suami saat menikah yaitu 28 tahun.
 
OBYEKTIF
Keadaan Umum: Baik, Kesadaran: Composmentis, Keadaan Emosional: Stabil, Tanda - tanda Vital: Tekanan Darah: 100/70 mmHg, Nadi: 76 x/menit, Pernafasan: 20 x/menit, Suhu: 36,5°C, Lingkar lengan atas: 24 cm, Tinggi Badan: 145 cm, Berat Badan: 50 kg (sekarang), Berat Badan: 42 kg (sebelum hamil). Muka tidak pucat, tidak oedema, tidak ada chloasma gravidarum, kelopak mata simetris, tidak oedema, konjungtiva tidak pucat, sklera            tidak kuning, hidung bersih, tidak ada secret, tidak ada polip, mulut dan gigi          : lidah  bersih, tidak ada sariawan, gusi tidak berdarah, tidak bengkak, gigi    bersih, tidak carries, tidak berlubang, telinga simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak ada pengeluaran. Leher, kelenjar tyroid tidak ada pembesaran, kelenjar getah bening tidak ada pembesaran. Axilla dan dada, Jantung frekuensi teratur, paru suara nafas tidak ada ronkhi/wheezing, Mamae simetris, tidak ada benjolan dan rasa nyeri, puting susu menonjol, kolostrum sudah keluar. Punggung, posisi tulang belakang lordosis fisiologis dan tidak ada nyeri ketuk. Ekstermitas atas dan bawah, edema tidak ada, kekakuan sendi tidak ada, kemerahan tidak ada, varices tidak ada, refleks patela kiri dan kanan positif.
Pemeriksaan obstetri, Abdomen : pembesaran perut sesuai umur kehamilan, konsistensi lunak, tidak ada luka bekas operasi, luka operasi tidak ada. Palpasi abdomen, Kontraksi negatif, tinggi fundus uteri 30 cm, leopold I: teraba bagian lunak , bulat, tidak melenting yaitu bokong.
Leopold II: bagian kiri teraba bagian – bagian kecil janin yaitu ekstermitas. Bagian kanan teraba bagian datar, panjang,seperti papan yaitu punggung. Leopold III: teraba bulat, keras, melenting yaitu kepala dan masih bisa di goyangkan. Leopold IV: bagian terbawah janin masih belum masuk Pintu Atas Panggul (PAP). Konvergen 5/5 bagian. TBJ (30-13) x (155)x(igr) = 2635 gram.
Auskultasi DJJ positif, frekuensi 132 x/menit teratur, punctum maksimum disatu tempat terdapat 3 jari dibawah pusat. Pemeriksaan anogenital (inspeksi vagina), vagina tidak ada kelainan, tidak ada varises, dan tidak ada oedem, tidak ada fistula, tidak ada condiloma, terdapat sedikit fluor albus dan tidak berbau dan tidak ada luka parut perineum. Pada anus tidak terdapat haemorroid.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah laboratorium darah, Hb: 8,5 gram %, urine  reduksi (-) negatif, albumin (-) negatif.

ASSASMENT
 G1P0A0 usia kehamilan 35 minggu dengan anemia sedang
 Janin, hidup, tunggal, Intra uterin, Preskep

PLANNING OF ACTIONS
-  Melakukan inform consent
-  Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa ibu mengalami anemia sedang dan janin dalam keadaan normal dengan usia kehamilan 35 minggu.
-  Memberikan KIE pada ibu tentang :
o   Menjelaskan kepada ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan, seperti:
ü  sakit kepala yang hebat
ü  penglihatan kabur
ü  bengkak pada wajah, tangan, dan kaki
ü  mual dan muntah yang berlebihan
ü  gerakan janin yang berkurang
ü  nyeri perut bagian bawah
ü  perdarahan pervaginam.
o   Menjelaskan ibu tentang tanda-tanda persalinan, seperti:
ü  mulas yang kuat, sering, dan teratur
ü  keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir
ü  keluar air ketuban.
o   Menganjurkan ibu untuk mempersiapkan kebutuhan persalinannya meliputi :
ü  penolong persalinan
ü  tempat bersalin
ü  cara menghubungi tenaga medis tersebut
ü  transportasi
ü  biaya persalinan, dan pendamping disaat persalinan
ü  serta perlengkapan ibu dan bayi seperti baju untuk ibu dan bayi.
o   Menganjurkan ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama sayuran hijau, kacang-kacangan, tempe, tahu, ikan, telur, daging karena dapat menambah kadar Hb ibu.
Contoh menu Gizi seimbang untuk mencegah anemia :
Menu I
Menu II
Menu III
Nasi 200 gr
Telur matang 1 buah
Sayur daun katuk
Susu kedelai 1 gelas
Buah pisang 1 potong
Nasi 200 gr
Sop ikan 1 mangkuk kecil
Tumis kangkung
Pepes kukus tahu
Air jeruk 1 gelas
Nasi 200 gr
Sayur tumis singkong
Ayam goreng
Tempe goreng 3 potong
Jus tomat 1 gelas
Selingan: bubur kacang hijau 1 mangkuk
Selingan: kue biskuit susu 1 buah
Selingan: susu rendah lemak 1 gelas
o   Menganjurkan ibu untuk beristirahat yang cukup, dan jangan terlalu kelelahan.
o   Memberitahukan ibu mengenai kepercayaan ibu tentang kehamilan seperti bengle yang dipakai ibu, selama itu tidak membahayakan keselamatan itu, tidak masalah jika ingin terus dipakai.
o   Menjelaskan pada ibu bahwa keputihan yang dialami nya adalah masih dalam batas normal karena pada masa kehamilan ada peningkatan volume sekresi vagina, menganjurkan ibu untuk rajin menjaga kebersihan diri dan alat kelamin dan memakai celana dalam yang berbahan katun agar menyerap keringat. Dan ganti pakaian dalam 2-3x sehari.
-  Memberikan tablet oral Fe 60 mg 2x1 hari untuk mengatasi anemia sedang yang dialami ibu, diminum pada siang hari dan malam hari ketika hendak tidur agar mengurangi mualnya karena efek dari Fe ini mengakibatkan mual.
-  Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu lagi tanggal 2 Februari 2012 atau jika ada keluhan. Dan menganjurkan ibu untuk melakukan pengecekan ulang kadar Hb ibu 4 minggu kemudian.

EVALUASI
-  Ibu sudah mengerti seluruh hasil pemeriksaan
-  Ibu sudah mengerti dan mau melaksanakan apa yang sudah dijelaskan dan dianjurkan oleh bidan
-  Ibu akan melakukan kunjungan ulang pada tanggal yang dianjurkan bidan atau jika ada keluhan.
BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
Pada bab ini penulis mencoba menyajikan pembahasan dengan membandingkan antara teori dengan manajemen asuhan kebidanan ibu hamil yang diterapkan pada Ny. “M” pada pemeriksaan kehamilannya.
Ny.”M” umur 31 tahun G1P0A0 HPHT 19-05-2011, lamanya 7 hari, banyaknya 3x ganti pembalut dan taksiran persalinan tanggal 26-02-2012. penulis melakukan pemeriksaan kehamilan pada Ny “M” usia kehamilan 35 minggu.
Pelayanan atau asuhan standar minimal termasuk 10 T pada saat kontak pertama kali dilakukan pemeriksaan kehamilan. Timbang berat badan, ukur (Tekanan) darah, nilai status lingkar lengan (LILA), ukur (Tinggi) fundus uteri, Tentukan presentasi janin dan DJJ, pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT), pemberian Tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan, Tes laboratorium, Tes terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS) dan Temu wicara atau konseling termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi serta KB pasca persalinan (Depkes RI, 2009).
Dan pada saat melakukan asuhan antenatal care terhadap Ny. “M”, mahasiswa telah melakukan asuhan standar minimal tersebut. Pemeriksaan yang tidak dilakukan adalah tes penyakit menular seksual, hal ini dikarenakan klien tidak ada indikasi untuk pemeriksaan Tes PMS dan keterbatasan alat laboratorium. Klien tidak mendapatkan imunisasi TT lagi pada kunjungan pemeriksaan kehamilan saat ini, setelah pemberian TT sebelumnya pada tanggal 19-12-2011. Hal ini disebabkan status imunisasi Ny. “M” telah lengkap.
Pemeriksaan antenatal care dilakukan minimal sebanyak 4 kali selama kehamilan yaitu 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua, 2 kali pada triwulan ketiga (Saifuddin, 2009: 90). Kunjungan  dianjurkan tiap 4 minggu sampai usia kehamilan 28 minggu, tiap 2 minggu sampai usia 36 minggu, dan tiap 1 minggu setelah kehamilan 36 minggu (Saifuddin, 2008).
Pada kontak pertama antara penulis dengan Ny. “M” tanggal 18 Januari 2012, Ny. M mengatakan sudah melakukan kunjungan ANC sebanyak 6 kali yaitu 3 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua, 2 kali pada trimester ketiga termasuk saat itu. Kemudian jadwal kunjungan ulang yang dianjurkan adalah 2 minggu kemudian tanggal 2 Februari 2012 melihat usia kehamilan ibu adalah 35 minggu. Hal ini sesuai dengan teori.
Menurut Saifuddin (2009), bertambahnya berat badan minimal 8 kg selama kehamilan. Sedangkan menurut Manuaba (2010), berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5 sampai 16,5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan sekitar 0,5 kg/minggu.
Hasil pemeriksaan yang dilakukan selama hamil, ibu mengalami peningkatan berat badan hingga 8 Kg. Berarti hal ini sesuai dengan teori.
16-20 minggu ibu merasakan gerakan janin (Quickening) (Fraser, 2009: 148). Turunnya kepala, masuk pintu atas panggul, terutama pada primigravida minggu ke-36 (Manuaba, 2010: 167). Batas normal denyut jantung janin antara 120 dan 160 x/menit(Manuaba, 2010: 159).
Hal tersebut sejalan dengan hasil anamnesa terhadap pergerakan janin yang dirasakan pertama  kali adalah saat usia kehamilan 20 minggu. Lalu saat melakukan Leopold 1 bagian fundus teraba bagian lunak, bulat, tidak melenting yaitu bokong. Leopold II Bagian kanan teraba datar, panjang seperti  papan yaitu punggung. Bagian kiri teraba bagian terkecil janin yaitu ekstermitas. Leopold III teraba bagian bulat, keras, melenting yaitu  kepala dan masih bisa di goyangkan.    Leopold IV : konvergen 5/5 bagian.
Leopold III kepala janin memang belum masuk pintu atas panggul. Dan pemeriksaan DJJ adalah 132x/menit dengan Punctum Maksimum 3 jari dibawah pusat yang artinya DJJ dalam batasan normal. Berarti tidak ada masalah dalam hal ini.
Selama kehamilan peningkatan volume sekresi vagina juga terjadi, di mana sekresi akan berwarna keputihan, menebal, dan pH antara 3,5-6 yang merupakan hasil dari peningkatan produksi asam laktat glikogen yang dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari lactobacillus acidophilus (Saifuddin, 2008: 178)
Ny. “M” memang mengalami sekresi berwarna keputihan pada vulva nya saat dilakukan pemeriksaan anogenitalia ekterna. Dan hal tersebut sudah diinformasikan kepada Ny. “M” bahwa hal demikian adalah dalam batas normal selama tidak berbau, gatal, dan berlebihan.
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin dibawah 11g% pada trimester 1 dan 3 atau kadar < 10,5 g% pada trimester 2 (Saifuddin, 2009: 281).
Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat Sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan Sahli dapat digolongkan sebagai berikut: (Manuaba, 2010: 239)
a.       Hb 11 g% disebut tidak anemia
b.      Hb 9-10 g% disebut anemia ringan
c.       Hb 7- 8 g% disebut anemia sedang
d.      Hb ≤ 7 g% disebut anemia berat.
Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang, pemeriksaan laboratorium terhadap klien yaitu pemeriksaan kadar Hb dengan sahli, protein urine dan urine reduksi dengan hasil kadar Hb ibu adalah 8,5 gr%,  protein urine negatif (-) dan urine reduksi negatif (-). Dan menurut teori Ny. M mengalami anemia karena anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan keadaan hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester I dan III. Dan anemia nya masuk ke dalam golongan anemia sedang.
Sejak tahun 1972, WHO merekomendasikan agar suplementasi zat besi sebanyak 30-60 mg diberikan kepada ibu yang memiliki cadangan zat besi di dalam tubuhnya, dan 120-240 mg per hari untuk ibu yang tidak memiliki cadangan zat besi (Fraser, 2009: 190).
Hal tersebut sejalan dengan asuhan yang diberikan pada Ny. “M” yaitu memberikan tablet Fe 60 mg dengan dosis 2x1. Melihat Ny.”M” dalam keadaan anemia sedang.
            Penulis melakukan asuhan-asuhan kepada ibu, diantaranya memberitahu ibu untuk mengkonsumsi nutrisi untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu dan janin, tanda-tanda bahaya kehamilan, tanda-tanda persalinan, anjurkan untuk istirahat yang cukup, memberikan tablet Fe, menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan hamil ke tempat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendeteksi ada tidaknya komplikasi-komplikasi selama kehamilan.
 
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
            Dari uraian materi dan pembahasan kasus tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pentingnya asuhan yang diberikan bidan terhadap ibu pada masa kehamilan sehingga deteksi dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi dapat dihindari atau ditanggulangi.
            Pada pemeriksaan kehamilan Ny.”M” umur 31 tahun G1P0A0 usia kehamilan 35 minggu. Ny “M” telah melakukan kunjungan ANC sebanyak 6 kali. Asuhan yang diberikan terhadap Ny. “M” ditemukan masalah yaitu anemia sedang dengan kadar Hb ibu 8,5 gr% setelah melakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan kadar Hb menggunakan sahli. Namun asuhan yang sesuai prosedur telah dilakukan oleh penulis berupa anjuran makanan yang bergizi seimbang dan asupan tablet Fe 2x1 diminum dengan air putih maupun istirahat yang cukup. Hal ini berarti penulis telah berusaha menerapkan pengkajian dan pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil sesuai dengan pola pikir Manajemen Kebidanan Varney dan melakukan pendokumentasian.
            Pada pelaksanaan manajemen asuhan kebidanan pada Ny. “M” sebagian telah dilakukan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan dan berdasarkan teori yang ada dengan praktek yang nyata.

5.2 Saran-saran
5.2.1 Bagi Penulis
Agar penulis dapat meningkatkan keterampilan yang dimiliki untuk melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil sesuai standar profesi kebidanan dan dapat mengatasi kesenjangan yang terkadang timbul antara teori yang di dapat diperkuliahan dengan praktik yang nyata di lahan serta dapat mengaplikasikan teori yang didapat dengan perkembangan ilmu kebidanan terbaru.
5.2.2 Bagi Lahan Praktek 
Untuk bidan maupun tenaga kesehatan lainnya diharapkan dapat memberikan asuhan yang menyeluruh serta mendeteksi kelainan secara dini dan mencegah terjadinya komplikasi dalam masa kehamilan.
5.2.3 Bagi Institusi pendidikan
Agar institusi dapat menilai sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan yang telah didapat dengan mempraktekkan dan menerapkannya pada pasien / klien secara langsung.
5.2.4 Bagi pasien
Agar ibu hamil dapat menambah informasi seputar kehamilannya khususnya anemia dalam kehamilan yang ibu alami, kemudian suami dan keluarga dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu sehingga ibu dapat menjalani kehamilan, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir dengan baik dan aman.
DAFTAR PUSTAKA

Alipoetry. 2010. Anemia pada Ibu Hamil. http://aliranim.blogspot.com/2010/12/anemia-pada-ibu-hamil.html. diakses tanggal 09 Februari 2012.
Badan Pusat Statistik. 2008. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007.
Bappenas. 2010. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia. http://www.scribd.com/doc/52729162/25/Daftar-Pustaka. diakses tanggal 03 Februari 2012
Departemen Kesehatan. 2008. Profil Kesehatan Indonesia 2007. http://www.depkes.go.id. diakses tanggal 01 Februari 2012
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009.  http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22463/4/Chapter%20II.pdf. diakses tanggal 04 Februari 2012
Fadlun, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika
Fraser, D.M dkk. 2009. Buku Ajar Bidan Myles edisi 14. Jakarta: EGC
Hidayati, Ratna. 2009. Asuhan Keperawatan pada Kehamilan Fisiologis dan Patologis. Jakarta: Salemba Medika.
Manuaba, Ida Ayu Chandranita dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan edisi 2. Jakarta: EGC
Mulyani, Ani. 2010. Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny. R Di Kp. Tunagan RT 01 RW 07 Linggajaya Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya Tahun 2010. http://www.scribd.com/doc/60926279/31/Tujuan-pemeriksaan-fisik, diakses tanggal  18 Januari 2012
Saifuddin, A.B dkk. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : BP-SP
Saifuddin, A.B dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : BP-SP
Saifuddin, A.B dkk. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: BP-SP
Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC
Simanjuntak, Nelly Agustini. 2009. Hubungan Anemia pada Ibu Hamil dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2008. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14666/1/09E01606.pdf, diakses tanggal 23 Januari 2012
Syafrudin, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC
WHO, 2008. Maternal Mortality In 1990-2008 WHO, UNICEF, UNFPA, and The World Bank Maternal Mortality Estimation Inter-Agency Group Indonesia.http://www.who.int/gho/mdg/maternal_health/situation_trends_maternal_mortality, diakses tanggal 23 Januari 2012



8 komentar:

  1. tuliskan komentar anda ya... :) terimakasih sebelumnya sudah mau mengunjungi blog ini.. (^_~)v

    BalasHapus
  2. Baru liat Study kasus... Kayak Gitu Toh.. , Thanxs Ya K2, Udah mau berbagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ini sih studi kasus aku waktu kuliah dulu.. ya walaupun ada kurang2 ny diberbagai sisi.. tpi seneng bisa berbagi,,, hihiii.... siph... congrat yap buat kamu... :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. ur welcome :) semoga bermanfaat ya... :) thx udah kunjungi blog ini.. n nyempetin kasih komentarnya..

      Hapus
  4. terima kasih atas materinya, ini sangat berharga banget buat aku....^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 :) makasih juga lho udah kunjungi blog ini sekligus nyempetin kasih komentar... semoga bermanfaat yah.. :)

      Hapus
  5. thanks ka :) bagus bgt materinya,, ijin copy ya ka untuk belajar :)

    BalasHapus