WELCOME TO MY BLOG.. :)

WELCOME TO MY BLOG.. :)
Smile before ... :)

Senin, 17 Februari 2014

1st Beauty Red Rose from you :)


 Ini adalah hadiah istimewa dan terindah yang pernah aku terima dari orang yang aku sayang... makasih ya udah kepikiran buat kasih aku mawar merah inah ini.. :) aku sengaja foto-foto mawar dari kamu ini... kamu bilang satu tangkai mawar merah simbol dari cinta kamu hanya satu untuk aku... dikelilingi bunga putih itu melambangkan cinta kamu yang suci dan tulus buat aku... wish longlast with you honey... :* 


Minggu, 21 Juli 2013

Tell about me with ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ


Aku seorang gadis Indonesia
Baru sekitar 20-an usiaku
Cita-cita ingin menjadi penulis yang karya-karyanya disukai n mendapat apresiasi
Disisi lain juga pencinta n bergelut di dunia kesehatan
Emosi nya lebih sering di pendem seorang diri
Feminim sekarang... dulunya tomboy abesss...
Gemukin badan adalah hal paling susah deh
Humoris dan romantis menjadi salah satu pria idaman dari dulu
Internetan, seperti browsing, chatting, blogging, dll itu rutinitas untuk mengisi hobi menulis
Jalan-jalan kemana aja yang penting happy asal bareng ‘kamu’
Kerapkali susah tidur hingga sering tidur larut malam
Lelaki beriman, setia dan bertanggung jawab impian tuk menjadi imam ku
Merah warna yang paling di suka
Naik haji bareng orang tua semoga diberi kesempatan oleh Allah SWT , Amien Ya Rabb..
Orang yang glamor n pemalas paling dihindarin
Pantai adalah landscape indah dan mempesona bagiku
Quality is number one than quantity
Risih liat orang pake baju seksi di tempat umum
Silinder nih mata ku dua-dua nya bikin suka pusing
Tipe orang yang sensitif n gampang nangis
Udah sering belajar motor tapi nasib ga bisa-bisa
Variasi kalo pake hijab ga suka yang terlalu glamor n ribet-ribet
Warna fresh, kalem, feminim, wah.. itu kesukaan saya
XX kromosom yang ada di tubuhku sehingga aku terlahir menjadi kaum hawa sebagai calon ibu
Yogyakarta adalah tujuan wisata terfavorit dengan segala keunikan dan keindahannya.
Zzzzzzzzzzzz...... bobo dulu yah.. hhihiiii....

Tolonglah bintang



Bintang... lihatlah...
Matanya tak kunjung terpejam..
Air bening itu terus terjatuh di pipinya
Kedua telapak tangan nya bergetar

Bintang.. bantulah..
Terangi hatinya yang gundah
Temani nyanyian jiwanya yang tengah hampa
Selimuti tubuhnya yang menggigil sepi

Bintang.. mengapa kau hanya diam
Rembulanmu tengah terluka
Mengapa kau hanya diam
Nyanyikanlah bait cinta untuknya

Bintang.. tolonglah dia..
Dia hanya ingin bintang saja yang temani nya
Dia tak mau yang tak biasa
Dia hanya butuh bintang peluk mimpinya

                                             11 juli 2013

Kaulah sempurnaku


Melangkahlah engkau mentari
Memeluk embun sang penjaga hati
Hingga awan merona merah
Menyambut hadirnya penguasa rasa

Kau yang mendekapku dengan cinta
Kau yang ajarkan ku rasa rindu
Senyummu bagai purnama
Yang mewakili indahnya semesta

Tulusmu laksana lagu
Yang bersenandung merdu di hatiku
Sayangmu adalah nafas
Yang memberi hidup dalam ragaku

Bagiku kaulah tenang
Yang menjadi teduh dikala gelisahku
Kutemukan sejukku
Saat ku berlabuh dihatimu

Kaulah lentera
Yang memberi cahaya disetiap langkah
Kaulah bahagia
Yang membawa ceria mengobat lara

Maka izinkanlah raga ini
Tuk selalu menjaga mu
Berbagi kasih merangkai kisah
Hingga renta menutup usia
Karena ku yakin
Kaulah sempurnaku...

Teruntuk mu hatiku selalu
Karena aku mencintaimu
Dalam senyum dan tangisku
Dalam hidup dan matiku....


Untukmu Wahai Penguasa Rasaku




Dekap jiwaku dengan cintamu
Peluk rinduku dengan kasihmu
Genggam sumpahku yang slalu ingin bersamamu
Karena hatiku hanya milikmu

Bila kau ragu
Tanyakanlah pada langit yang membiru
Dan bila kau tak temukan jawabmu
Tanyakan pada angin yang berlalu
Karena disitu
Ada aku dan cintaku

Dan bila kau pun masih ragu
Tanyakanlah pada hatimu
Tentang hati dan rasaku
Sungguh aku sayang kamu

Sabtu, 20 Juli 2013

Up n Down ( My life was for loving you )


Entah mengapa aku sedang membenci lagu melankolis. Itu membuat ku sedih. Terlebih jika aku tengah ada masalah. Seakan lagu itu menyinggung keadaan ku. Seperti saat ini. Aku berada di kamar ku yang hanya berukuran 3x2 meter. Sebuah lagu melankolis nampaknya membuat ku muak. Tapi aku terus memutarnya di playlist di winamp laptop ku yang sudah usang.  Keyboard nya saja tak berfungsi lagi. Hingga memaksaku untuk menggunakan keyboard portable.  Ah....., aku terus saja mengeluhkan kondisi ku yang begitu malang. Ya! Ku rasa semuanya berawal sejak aku masuk SMA. Aku tak berhasil masuk ke SMA negeri yang aku idamkan, melainkan masuk ke sekolah yang letaknya saja banyak orang tak tahu dimana. Begitu jauh dari keramaian kota yang hiruk pikuk. Sampai angkutan umum pun tak ada hingga aku dan siswa lainnya yang tak bisa membawa atau bahkan tak punya kendaraan bermotor harus mengikuti sebuah jemputan sekolah. Tapi aku tak punya pilihan lain, jika aku tak mau sekolah disana, aku harus sekolah di SMA swasta yang biayanya saja bisa tiga kali lipat dari SMA negeri. Biarlah walaupun bukan sekolah di SMA favorit aku setidaknya itu negeri. Tidak mahal dan menyusahkan orang tua ku.
Tapi ternyata Tuhan memiliki rencana dibalik itu. Di SMA yang tidak aku idamkan justru aku berprestasi. Aku masuk kelas unggulan. Selalu menerima beasiswa dari sekolah hingga aku kelas tiga. Lalu aktif ikut kegiatan ekskul PASKIBRA, hanya saja karena sering sakit akibat kelelahan, aku tidak ikut seleksi PASKIBRA di kota ku. Hingga tiba saat ketika aku lulus dan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Lagi-lagi aku bermimpi ingin menjadi mahasiswa kedokteran di universitas negeri yang lokasinya berada di luar kota. Namun aku pun tak lolos seleksi, tes mandiri yang aku ikuti pun tak ada yang lolos. Melainkan Tuhan memiliki rencana yang berbeda dengan mimpi ku untuk yang kedua kalinya. Aku berhasil lulus ujian tes di akademi kebidanan swasta dan satu hari setelah itu aku diumumkan diterima di universitas negeri di kota ku dengan jurusan sastra inggris yang aku sisipkan sebagai pilihan ketiga atau disebut cadangan saat mendaftar seleksi masuk PTN saat itu selain jurusan kedokteran dan matematika yang aku pilih.
Aku berfikir begitu keras untuk memilih yang mana yang akan aku pilih untuk aku melanjutkan perjuangan ku mencari ilmu. Kebidanan atau sastra inggris. Belum sempat aku menentukan pilihan, ayahku masuk rumah sakit. Beliau di opname selama hampir satu minggu. Setelah berkali-kali di cek laboratorium, ia diduga sakit Typus. Ah..., mungkin ayah juga tengah terlalu berat beban pikirannya memikirkan nasib ku yang ingin sekali kuliah tapi kondisi materi yang menyekik membuat agak berat rasanya. Atau karena keinginan ayah untuk menjadikan aku seorang dokter melalui universitas negeri yang mengharapkan ada biaya miring tak terwujud. Entahlah..., sesekali aku ke RS menjaga ayah dan menggantikan mamah ku yang pulang sebentar kerumah.
Aku ingat ketika itu ayah ku bertanya pilihan universitas mana yang akhirnya aku pilih. Aku pun memilih kebidanan. Aku ingin tetap berada di jalur mimpiku. Dunia kesehatan, yah.. kebidanan sejalur dengan dunia kedokteran.
Tak ku sangka aku benar-benar kuliah di akademi kebidanan dengan biaya yang tak sedikit. Aku selalu sedih ketika masuk semester awal dan harus membayar uang semester. Bukan karena tak terbayarkan, tapi kedua orang tua ku yang ku cinta selalu berusaha tuk membayar nya penuh, yaa penuh, padahal kampus memperbolehkan pembayaran di angsur selama dua kali. Setiap kali mamah memberikan tanda bukti setoran dari bank untuk ku bawa ke kampus. Aku menangis dari dalam hatiku. Mungkin sangat keras orang tua ku berusaha mendapatkan rupiah demi rupiah itu untukku.
Tapi setidaknya aku sempat membuat mereka tersenyum haru ketika aku mendapatkan peringkat ketiga dari keseluruhan mahasiswa saat aku semester satu, aku yang di panggil namanya ketika peringkat ketiga diumumkan hampir seperti mimpi yang terulang. Yah.. aku memang sempat bermimpi sebelum nya. Bagai dejavu bagi ku. Saat itu aku melihat mata ayah ku berkaca-kaca. Beliau yang maju ke depan panggung untuk mendampingiku mengambil piagam penghargaan dan plakat beasiswa bersama teman ku yang mendapat peringkat satu dan dua. Setelah itu aku terus memperoleh IPK yang cukup memuaskan sehingga terus-terusan memperoleh beasiswa. Dari sana aku baru memiliki sebuah handphone  kamera sederhana dan itu pun barang second. Tak masalah bagiku, asalkan aku bisa mengabadikn moment indah dengan HP ku itu. Lalu ketika aku terdesak harus mengerjakan beragam tugas akhir serta karya ilmiah aku meminta dibelikan laptop dengan uang beasiswa yang aku dapatkan. Begitu berguna hingga aku tak perlu menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk terus-terusan ke WARNET atau rental komputer.    
Aku tersenyum lega ketika sidang karya ilmiah ku di beri nilai ‘A’. Dan aku selangkah lagi dinyatakan lulus dan bergelar ahli madya kebidanan. Oh.. begitu terbayarkan perjungan ku saat berkutat dengan tugas akhir itu. Paling menyedihkan ketika harus mengingat ketika mamah ku selalu menemani ku jauh-jauh keluar kota untuk mengambil data penelitian tugas akhir ku di salah satu rumah sakit disana dengan perjalanan menggunakan kereta kelas ekonomi yang di dalam nya kalau sedang ramai begitu sesak hingga harus berjaga-jaga jangan sampai kecopetan. Aku tak biasa melakukan perjalanan keluar kota seorang diri. Aku masih takut sehingga mamah menemani ku. Ia tak terlihat berat meski harus menunggu ku di lobi rumah sakit lalu ketika lelah ia berpindah ke masjid raya yang letaknya berada di seberang rumah sakit. Ia tertidur disana. Aku yang cemas beberapa kali menghubungi mamah melalui ponsel ku, mengatakan kalau aku sebentar lagi selesai dan akan datang menghampiri nya. Tapi tak disangka saat aku turun ke lobi, diluar terlihat hujan deras. Aku mencoba menghubungi mamah tapi sinyal begitu buruk dan tak kunjung tersambung.  Bagaimana aku bisa menyusul mamah ke masjid seberang. Bagaimana mamah di sana yang menunggu ku sambil menatap hujan. Bagaimana kalau kereta yang akan membawa ku dan mamah ku kembali pulang berlalu sebelum aku dan mamahku tiba di stasiun.
Ahh... aku ingin menangis, mamah datang dengan badan agak lembab karena air hujan. Aku dan mamah naik angkutan umum menuju stasiun. Berharap kereta tujuan kami tidak terlewat. Itu semua yang membuat aku sedih dan bahagia ketika aku dapatkan nilai A.
Tiba saatnya ketika itu aku wisuda setelah sebelumnya aku sempat menjadi satu-satu nya mahasiswa peserta ujian akhir dengan sistem OSCA ( Objective Structure Clinical Assesment ) yang lulus sempurna tanpa remedial. Sekitar dua puluh lebih stasi ujian dan semua nya aku berhasil lulus. Aku pun tak menyangka mengapa bisa aku saja yang lulus keseluruhan ujian akhir. Aku sekali lagi harus bangga pada diriku sendiri. Aku bisa membuat ayah dan mamah tersenyum. Aku hanya berusaha keras untuk belajar ditengah kesibukan ku menjadi anggota senat mahasiswa di kampusku sebagai sekretaris di salah satu bidang dalam satu periode.
Kini aku telah menyandang gelar ahli madya kebidanan. Belum selesai perjalananku. Menitipkan CV ke beberapa rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya untuk berharap bisa bekerja di salah satu tempat tersebut. Hingga aku ditawari kerja di sebuah klinik swasta. Berjalan selama kurang lebih tujuh bulan aku mengabdi disana. Karena alasan pribadi aku mencari lowongan kerja lainnya. Hingga aku mendapatkan panggilan interview di salah satu rumah sakit elit dan mewah di Jakarta Selatan. Mungkin sinyal yang terganggu hingga panggilan yang harusnya sampai di ponsel ku di sore hari, baru masuk di tengah malam. Aku terkejut bahagia juga cemas. Bagaimana tidak, setelah menerima pesan itu hingga pagi nya aku tak tidur. aku harus berangkat interview pagi buta dengan bus diantar ayahku. Interview dilakukan sebanyak dua kali. Dan aku pun harus kembali berangkat pagi buta ke Jakarta. Cemas memburu waktu takut terlambat tiba disana. Lagi-lagi aku menangis dalam hatiku. Ayah ku menunggu ku dengan setia di basement rumah sakit bersama dengan keluarga lainnya yang tengah menunggu kerabat nya mengikuti interview. Dari pukul delapan pagi hingga jam menunjukkan pukul tiga lewat. Sepertinya mamah dirumah pun cemas menunggu kabar dari ku. Karena lelah aku tertidur di busway ketika perjalanan pulang menuju terminal. Aku terbangun dan sedih melihat ayah ku tak dapat kursi untuk duduk dengan menggendong tas ransel yang membawa perlengkapan ku untuk interview.
Pagi itu tengah mendung, hampir satu bulan sudah tak ku dapat panggilan lagi setelah aku menjalani interview di rumah sakit tersebut. Aku pasrah, mungkin mimpi ku lagi-lagi hanya sebatas mimpi. Mungkin Tuhan punya rencana lain. Aku memang sedih karena belum menjadi apa-apa untuk membantu orang tua ku tersayang. Tapi dalam doa ku selalu ku utamakan untuk mu ayah.. mamah.. bersabarlah untuk beberapa saat hingga aku akan membuat kalian kembali tersenyum karena anakmu ini. Because my life was for loving you forever.